Pandemi Covid-19, Wisata Malioboro Sepi Pengunjung

Dunia masih dibayang-bayangi pandemi Corona atau COVID-19  yang telah menjangkiti kurang lebih 190 negara di dunia. Pandemi ini membawa banyak dampak kepada semua sektor, tak terkecuali pariwisata. Justru sector ini bisa dibilang terkena dampak yang begitu besar.

Himbauan untuk melakukan social distancing tentunya memaksa orang-orang untuk berada dirumah saja dan tidak beraktivitas diluar. Hal ini membuat tempat –tempat wisata yang biasanya ramai menjadi sepi pengunjung. Seperti halnya yang terjadi dikawasan Malioboro yang kini sepi dari pengunjung dan pedagang.

Sudah hampir sepekan, suasana di Malioboro sangat sepi dan hanya beberapa toko saja yang beroperasi. Sedangkan untuk Pedagang Kaki Lima (PKL) yang beroperasi juga sangat sedikit. Padahal Malioboro dikenal sebagai tempat wisata yang banyak menjual oleh-oleh khas Jogja dan selalu dipadati oleh penjual kaki lima dan juga pengunjung.

Hanya terlihat beberapa orang tampak lalu lalang di kawasan Malioboro. Lalu lintas di kawasan tersebut juga terbilang sangat lancar. Pasalnya pada hari-hari biasa lalu lintas di kawasan tersebut terbilang cukup padat mengingat tempat tersebut adalah tempat wisata favorit di Jogja

Pandemi Covid-19, Malioboro Sepi Pengunjung

Penjual Tidak Dapat Penghasilan

Menurut kesaksian salah seorang tukang becak di Malioboro, Rubiyat (52), kondisi ini sudah berlangsung sejak pekan lalu. Bahkan, saat ini banyak PKL yang memilih tidak berjualan, atau beberapa toko hanya buka sampai sore hari. Pasalnya selama ini mereka mengandalkan nasib dari wisatawan yang datang guna memenuhi kebutuhan sehari-hari

“Kondisinya tutup semua dari 40 an pedagang lesehan tingga satu yang buka” ujar Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro, Desio Hartonowati.

Selain karena sepi, penutupan  lapak para pedagang juga dimaksudkan sebagai bentuk kehati-hatian dalam menghadapi pandemic corona

Namun tak dapat dipungkiri, banyak pedagang yang mengeluh karena tidak bisa bekerja dan memiliki pendapatan. Sebab berjualan di malioboro telah menjadi satu-satunya mata pencaharian sebagian masyarakat disekitar lokasi.

“Dari segi ekonomi jelas tidak ada pendapatan, kalau jualan juga tidak laku karena wisatawan juga tidak ada” ujarnya.

Beberapa orang yang masih nampak bekerja selain segelintir pedagang adalah tukang becak.Ditengah kondisi yang tidak kondusif dan tidak pasti ini, mereka hanya bisa memantau perkembangan terkini dari pandemic covid-19.

“Pedagang sama sekali tidak bisa apa-apa dan belum pernah terjadi sebelumnya seperti ini. Nasib kita juga masih belum jelas. Harapan kami, supaya pemerintah dapat meningkatkan penyebaran da nada upaya antisipasi untuk menghambat Covid-19” imbuh Desio.

.

Leave a Reply